Kegiatan
Bulan Bahasa SMA Negeri 1 Belitang
Bahasa Indonesia telah berusia 85 tahun
pada tanggal 28 Oktober 2013 ini. Pada tiap tanggal 28 Oktober, perhatian
bangsa kita terhadap Bahasa Indonesia biasanya lebih besar dan meningkat.
Tanggal 28 Oktober itu bukan hanya sekedar “Hari lahirnya Bahasa Indonesia” ,
namun lebih dikenal sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.
Barangkali perlu diketengahkan
faktor-faktor yang menjadikan perhatian bangsa kita menjadi meningkat pada
sekitar tanggal 28 Oktober itu. Diantaranya ada 3 faktor, yaitu:
Pertama,
karena bangsa Indonesia telah semakin sadar akan arti sumpah Pemuda yang
diikrarkan pada tanggal 28 Oktober itu, bahwa menjunjung tinggi bahasa persatuan,
bahasa nasional tidak cukup hanya dengan ucapan namun ucapan itu harus
direalisasikan dalam sikap dan perbuatan. Dengan demikian Bahasa Indonesia akan
menjadi penggerak pembangunan, pendidikan, kepanduan dan pembinaan sikap
perbudayaan Indonesia, yakni menjunjung tinggi kekeluargaan, persaudaraan
dengan asas musyawarah dan mufakat.
Kedua,
Bahasa Indonesia hingga kini masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan
sehingga kita perlu bina, perhatikan dan kembangkan sebagaimana mestinya. Kita
perlu segera memperbaiki sikap diri dalam berbahasa Indonesia sedini mungkin,
memelihara dan mempergunakannya sesuai dengan kaidah dan tutur bahasanya.
Ketiga,
adanya perhatian khusus dalam praktek dari pemerintah terhadap Bahasa
Indonesia. Perhatian khusus itu adalah suatu pengakuan bahwa sejak tahun
1980 bulan Oktober ditetapkan sebagai “Bulan Bahasa”, hingga Oktober tahun ini
merupakan Bulan Bahasa yang ke 32. Dalam hubungan ini pantas kiranya bila kita
mawas diri dan bertanya sampai seberapa jauh kiprah pemerintah dan bangsa
Indonesia tersebu memberi pengaruh dan sumbangan nyata terhadap perkembangan
Bahasa Indonesia. Instrospeksi semacam ini wajar mengingat datangnya bulan
Oktober di era modern sekarang ini untuk lebih menjaganya dan bukan merusaknya,
seperti dengan bahasa-bahasa “gaul” yang tidak sopan.
Arti peristiwa Politis dan Teknis
Kita telah mengetahui dalam sejarah
bahwa setiap peristiwa bahasa bukan hanya peristiwa bahasa yang murni melainkan
juga bersifat politis dalam sejarah perjalanan bahasa Indonesia.
Menurut Drs. Harimurti Kridalaksana hal
itu disebut peristiwa politis. Adapun yang dimaksud peristiwa politis adalah
suatu tindakan politis yang bertujuan untuk membulatkan tekad dan mengumpulkan
kekuatan demi mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional secara
lebih ampuh. Sedangkan yang dimaksud dengan peristiwa teknis merupakan
pemantapan wawasan dan penggunaan Bahasa Indonesia.
Integrasi Nasional
Menurut Prof. Sunaryo, salah seorang
pelaku sejarah Sumpah Pemuda 1928, bahwa pergerakan nasional sudah mulai tampak
jelas ketika 20 Mei 1908 berdiri Boedi Oetomo (BU). Tujuannya tersirat, yaitu
agar orang-orang Indonesia tidak lagi disebut inlander melainkan diakui sebagai
bangsa. Sesuai dengan jamannya, di sana telah terselip tujuan hendak bersatu
namun masih samar.
Sebagai rentetan dari BU ini, tahun
1915 mulai bermunculan organisasi-organisasi yang dipelopori oleh Jong Java
kemudian diikuti oleh Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Bataks, Jong
Ambon, dan lain-lain. Organisasi yang bersifat lebih Nasional seperti
Indonesisch Studieclub, Algeme Studieclub, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain.
Di Bandung muncul “Kepanduan Nasional”,
yaitu yang mempelopori pemakaian dasi merah putih pada tahun 1926. Kepanduan
Pemuda Nasional ini dipelopori oleh Mr. Sartono, Mr. Iskak, Mr. Sunaryo dan
lain-lain.
Selain di dalam negri di negri Belanda
pun berdiri Perhimpunan Indonesia (PI) dengan tokohnya antara lain Moh. Hatta,
Sartono dan Iwa Kusuma Sumantri. Kelompok inilah yang membuat semakin
berkobarnya semangat kesatuan dan bernegara merdeka dengan cara mengirimkan
majalah-majalah ke Indonesia. PI ini kemudian mendirikan kelompok pemuda
Indonesia di Bandung tahun 1927. Organisasi ini bekerja sama dengan Partai
Nasional Indonesia yang didirikan tahun itu olah Ir. Soekarno.
Integrasi Nasional yang lebih jelas dan
formal adalah ketika terjadi Kongres Pemuda I yang diselenggarakan pada 30
April 1926 di Jakarta dengan nama “Kerapatan Besar Pemuda”. Walaupun Kerapatan
Pemuda kesatu tak begitu dikenal karena belum menghasilkan suatu keputusan
bukan berarti kerapatan itu tidak mempunyai arti dan nilai. Kongres Pemuda
kesatu perlu mendapat catatan khusus dalam sejarah pergerakan Nasional sebab
kongres ini sebagai mobilisasi kea rah kongres berikutnya, inspirasi dalam
menciptakan persatuan dan pergerakan.
Meskipun kongres kesatu tidak
menghasilkan suatu keputusan yang begitu berarti tetapi kongres itu merupakan
embrio untuk persatuan bangsa di kala itu. Hal ini terbukti dengan hadirnya
dalam kongres itu wakil-wakil Jong java, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamienten
Bond, Studeerende Minahasaers, Jong Batak dan Pemuda Theosofi. Adapun kongres
ini dipimpin oleh Moh. Tabrani dari Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Selain itu dapat dilihat dari tujuan kongres itu sendiri. Tujunnya adalah untuk
memajukan paham persatuan dan kebangsaan serta menguatkan hubungan antara
sesama perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan. Jelaslah kongres ini adalah
jembatan emas menuju kongres kedua dalam dua tahun berikutnya.
Kongres Pemuda II
Kongres Pemuda II yang lebih dikenal
dengan nama “Sumpah Pemuda” merupakan suatu proses dialektika dari perjalanan
perjuangan pemuda-pemuda bangsa Indonesia. Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang
diilhami oleh kongres Pemuda pertama telah mengeluarkan suatu keputusan.
Keputusan itu adalah hasil kerja keras
pemuda-pemuda Indonesia dengan nama “Sumpah Pemuda” yang terdiri dari tiga
sikap atau pengakuan :
- Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah satoe, tanan air Indonesia.
- Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe berbangsa yang satoe, bangsa Indonesia.
- Kami Poetra dan Poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Jika kita kenang keputusan itu kita
patut berterima kasih banyak kepada para pemuda bangsa Indonesia yang telah
bekerja keras hingga kita merasakan arti sebuah kemerdekaan yang telah
diberikan oleh para Pahlawan.
Pada dasarnya meskipun kemerdekaan
seolah-olah diberikan oleh para Pahlawan revolusi !945 namun kita harus
mengakui adanya para Pahlawan peletak embrio kemerdekaan, yaitu para pelaku
sejaran Sumpah Pemuda. Prof. Sunaryo dari antara mereka mengatakan,”sebab tanpa
rasa kesatuan dalam bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu tak mungkin
akan terjadi proklamasi kemerdekaan 17 tahun berikutnya.
Maka dari itu, Kongres Pemuda II adalah
peristiwa politis dari sejarah lahirnya Bahasa Indonesia. Adapun peristiwa
teknis yang dapat kita lihat dari kongres pemuda itu dengan mengungkapkan suatu
pertanyaan, mengapa bahasa Melayu yang dipilih menjadi dasar bahasa Indonesia?
Alasannya adalah kenyataan menunjukkan bahwa bahasa Melayu itu strukturnya
sederhana dan mudah dipelajari. Selain itu alasan yang terutama adalah
pertimbangan historis, yaitu bahasa Melayu telah menjadi bahasa “lingua franca”
di Nusantara.
Adapun peristiwa sejarah itu yang
menjadikan bahasa Melayu menjadi “lingua franca” antara lain:
- Bahasa Melayu telah dipakai sebagai alat komunikasi pada kawasan kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara (abad 7 – 14 M)
- Kedatangan dan penyebaran agama Islam ke seluruh Indonesia dengan memakai bahasa Melayu sebagai alat pengantar.
- Bandar-bandar kerajaan Malaka pada abad ke-14 merupakan bandar yang penting di Asia Tenggara, ternyata dapat mengembangkan kesusastraan melayu yang sudah tinggi nilainya karena dipengaruhi oleh anasir Islam yang dipergunakan penggubah hasil-hasil sastra kerajaan.
- Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia dan pergerakan Nasional Indonesia.
- Peranan Balai Pustaka.
Dari uraian di atas, bahwa “Sumpah
Pemuda” disamping mengandung peristiwa politis dan biasa dikenal dari
buku-buku, juga mengandung suatu peristiwa teknis, yaitu adanya suatu forum
ilmiah kebahasaan untuk memantapkan wawasan dan penggunaan bahasa selanjutnya.
Jadi, lahirnya Bahasa Indonesia merupakan perpaduan antara peristiwa politis
dan teknis.
Nah….
Berikut ini adalah kegiatan peringatan
Bulan Bahasa di SMA Negeri 1 Belitang yang diselenggarakan tanggal 25,26 dan 28 Oktober 2013. Lomba ini di
adakan oleh pengurus OSIS dan seluruh warga SMA Negeri 1 Belitang.
Kita lihat yukkk…
KEGIATAN:
1.
MC RESMI
2.
PIDATO MENIRU TOKOH
3.
TUTUR CERITA RAKYAT
4.
CIPTA BACA PUISI BERTEMA POLITIK
5.
LAWAK
6.
RANKING SATU
Final kegiatan bertepatan dengan
Hari Sumpah Pemuda. Sebelum kegiatan final dilaksanakan, kita mengikuti upacara
terlebih dahulu. Upacara berjalan seperti biasa. Setelah itu masih ada penampilan marching band
Gita Prima Persada. Penampilannya oke bangettt. Ada penampilan kuda kepang juga lho...
Ini dia sedikit foto yang bisa saya bagikan
kepada teman semua..
Cukup segini dulu ya? Tahun depan bisa
ditambah lagi…
Sumber:








